INDONESIAKU Pictures, Images and Photos

Jumat, 28 Mei 2010

Diary untukmu

Kemarin malam, ku membaca diary tua di gudang belakang rumah. Ku bersihkan sampulnya, lalu ku buka halaman pertama: “Diaryku untukmu”

(Dengan penasaran, ku buka kembali halaman kedua):

Ayah. Ribuan hari, ribuan kenangan, ribuan cerita yang pernah ada dalam dentuman zaman, bahagiakan jiwa-jiwa nelangsa anakmu dari ketersesatan. Tak pelak, waktu menelanmu ke dasar dunia yang telah dijanjikan. Kini, menyisakan jiwa-jiwa kosong akan sebuah sosok. Sebuah jiwa yang tersesat akan tujuan. Jiwa yang kehilangan kemudi, hingga tak tau harus berbelok atau terus melaju. Jiwa yang patah sebelum terinjak ganasnya padang kenistaan



(Aku begitu kagum dengan kata-kata di halaman ini. Dengan bersemangat, ku buka halaman ketiga):

Ayah, dunia kini tak semenarik ketika kita bersama dulu. Engkau pernah berkata padaku: “ Dunia seperti warna, kamu harus mengetahui semua warna. Karena kamu mempunyai pelangimu sendiri.” Ayah, aku telah mencoba semua warnaku, tapi ku tak tahu bagaimana pelangi itu terbentuk. Sungguh aku tak mengerti,,,ayah,,,. Beberapa orang lupa tentang pelangi mereka, beberapa lainnya ditelan kesibukkan dunia, tapi mereka masih tak tau apa yang sebenarnya mereka cari. Sungguh begitu rumit, serumit pikiranmu ayah tentang kehidupan. Bahwa kehidupan mempunyai caranya sendiri untuk sebuah pembentukkan gugusan jati diri. Beberapa mengalaminya sama, tapi hasilnya berbeda pada tiap orang.

(Tanpa terasa, tanganku bergerak ke halaman keempat):

Kilauan cahaya rasa memancar darimu ayah, menembus hati anak-anakmu. Begitu terangnya hingga kekagumanku mengunci mulutku untuk bertanya dan mebuka lebar-lebar hatiku, agar bisa merasakan indahnya ceritamu. Sebuah paradigma perilaku hakiki dari ayah dan anak. Sungguh, tak ada yang sebanding denganmu. Aku bangga menjadi putramu. Walaupun kini duniaku bukanlah duniamu, tapi gemerisik do’a kukirimkan lewat hembusan angin di tengah malam. Jangan takut ayah, aku akan memastikan bekalmu cukup disana.

(Sungguh ku tak bias berkata apa-apa membaca halaman ini. Begitu murni dan polos hingga mulutku membungkam. Kemudian kumelanjutkan ke halaman kelima):

Awan kelam datang menghampiri, tubuh-tubuh terlepas dari selongsong menuju kesepian tak berujung. Sebuah pedoman yang telah hilang membuat diri ini terpaku untuk melangkah. Jalinan kasih yang telah direnggut masa, menyisakan liku-liku tak bertuan untuk dijalani. Tak pernah ku merasakan sepi yang menghujam jauh ke dasar jurang kegalauan. Sungguh, ku tak sanggup menjalaninya sendiri.

(Sungguh, halaman ini mengingatkanku pada rasa sepi yang pernah kualami. Rasa sepi yang menghantam dari segala penjuru. Membuatku merengkuh di pojok kamar. Lalu aku melanjutkan ke halaman keenam):

Ayah, badai begitu besar. Tak sanggup kaki-kaki pencakar bumi menahannya. Begitu besarnya, hingga menghempaskanku ke jurang kenistaan. Ayah, hibur aku dengan kebijaksanaanmu. Puaskan aku dengan kata-kata pelepas lara. Ajak aku bercanda ayah, dengan tawamu yang khas. Aku membutuhkan itu semua ayah. Agar aku bisa menjalaninya setegar kata-katamu. Bisa menjalaninya sehangatmu, bisa menjalaninya sebijaksanamu.

(Sungguh aku terharu membacanya, dengan pilu aku membaca halaman ketujuh):

Sudah setahun ayah. Diri ini telah memulai membenahi kepingan-kepingan hidup yang hancur tergilas rasa kehilangan. Aku berjanji ayah, aku akan membuatmu bangga, sebagai penghormatanku untukmu. Aku mohon restumu ayah, tuk jalani apa yang tak pernah kujalani, merasakan apa yang belum kurasakan, melewati apa yang tak bisa kulewati, merelakan apa yang tak bisa kurelakan. Karna kuyakin, dirimu selalu ada di sisiku.

(Huh…begitu hangat dan bangga aku membaca halaman ketujuh ini. Kemudian aku melanjutkan ke halaman terakhir):

Semalam, aku memimpikan ibu, ayah. Ibu begitu mesranya memeluk ayah. Begitu bahagianya ibu bisa bersama ayah lagi. Aku senang sekali melihat kalian berdua. Sekarang aku tak perlu khawatir, karena kalian berdua bahagia disana. Ayah, mulai sekarang aku takkan menulis diary lagi, karena aku tak mau mengganggu waktumu bersama ibu. Lepas dari itu, aku bangga dengan ayah dan ibu. Kalian bisa menunjukkan bahwa cinta adalah abadi. O iya ayah, salam untuk ibu. Bilang, kalau aku menyayanginya seperti aku menyayangimu.

Salam anakmu,

Januar Al Farisi

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Archive

About Me

Foto saya
jakarta, DKI-Jakarta, Indonesia
akulah penyair gila yang mencoba menembus pemikiran dengan pemikiran. aku hidup bersama ketenangan dan menghilang bersama relung hati aku berlari dalam gelap,menerobos yang tak terlihat. aku menyelam dalam batas kegalauan dan tenggelam dalam keinginan. aku bukanlah aku, aku adalah sesuatu yang menghasilkan kamu,dia dan mereka.

tukeran link yuk..copy paste ke widget anda..nanti saya pasang link anda

1. 11 kode etik blogger indonesia , oleh kafe28 !!!
2. ingin tahu siapa yang "mencuri" ide atau menjiplak blog anda , cek disini !!!
3. Seberapa cepat waktu pengaksesan blog Anda, cek disini !!!
4. Info palestine terlengkap, cek disini !!!
5. Daftarkan blog anda kesemua search engine agar terlacak , cek disini !!!
6. Tambah gadget untuk blog anda, pilih dan pasang, cek disini !!!
7. Buat Domain CO.CC gratis,ketik domain yang diinginkan dan daftarkan!!!

8. cara gampang dan cepet dapet emblem,tokken ninja saga dan dollar gratis dari facebook.buat account,invite or publish, cek disini !!!
9. bisnis di internet, mudah cepat gak aneh-aneh. modal kecil dan terbukti, cek disini !!!
hi my friend..get money from ur blog..just sign up an account here and make account in paypal, to transfer ur money.this is absolutely free..per Click: $0.05, per Sale: $3.00. have fun...!!!

Get cash from your website. Sign up as affiliate.
 

sms gratis..(trust me...it works...!!!)

Go_Articles